Palestina دولة فلسطين (bahasa Arab), Palestina (bahasa Suryani), atau Palestina פלשתינה (bahasa Ibrani) atau Eretz Yisrael ארץ־ישראל (bahasa Ibrani) ialah sebuah daerah di Timur Tengah antara Laut Tengah dan Sungai Yordan. Status politiknya masih dalam perdebatan. Sebagian besar negara di dunia termasuk negara negara anggota OKI, ASEAN, dan Gerakan Non-Blok mengakui keberadaan baik negara Israel maupun negara Palestina.
Geografi
Palestina terletak di bagian barat benua Asia yang membentang antara garis lintang meridian 15-34 dan 40-35 ke arah timur, dan antara garis lintang meridian 30-29 dan 15-33 ke arah utara.
Palestina membentuk bagian tenggara dari kesatuan geografis yang besar di belahan timur dunia Arab yang disebut dengan negeri Syam. Selain Palestina, negeri Syam terdiri dari Lebanon, Suriah dan Yordania. Pada awalnya negara-negara ini punya perbatasan yang kolektif di luar perbatasannya dengan Mesir.
Papan nama dalam tiga bahasa di Palestina.

Perbatasan Palestina dimulai dari Lebanon di Ras El-Nakoura di wilayah Laut Tengah (Laut Mediterania) dan dengan garis lurus mengarah ke timur sampai ke daerah di dekat kota kecil Lebanon yaitu kota Bent Jubayel, di mana garis pemisah antara kedua negara ini miring ke Utara dengan sudut yang hampir lurus. Pada titik ini, perbatasan berada mengitari mata air Sungai Yordan yang menjadi bagian dari Palestina dalam jalan kecil yang membatasinya dari wilayah Timur dengan wilayah Suriah dan danau Al Hola, Lout dan Tabariyya.
Perbatasan dengan Yordania dimulai di wilayah selatan danau Tabariyya pada pembuangan sungai Al Yarmouk. Terus sepanjang Sungai Yordan. Dari mata air Sungai Yordan, perbatasan ini ke arah Selatan membelah pertengahan Laut Mati secara geometrikal dan lembah Araba, hingga sampai pada daerah Aqaba.
Perbatasan dengan Mesir dapat digambarkan dengan garis yang hampir membentuk garis lurus yang membelah antara daerah semi-pulau Seena dan padang pasir Al Naqab. Perbatasan ini dimulai di Rafah di Laut Tengah hingga sampai ke daerah Taba di Teluk Aqaba.
Di bagian Barat, Palestina terletak di sebelah perairan lepas internasional dari Laut Tengah dengan jarak sekitar 250 km dari Ras El-Nakoura di belah selatan hingga Rafah di bagian selatan.
Karena lokasinya terletak di pertengahan negara-negara Arab, Palestina membentuk kombinasi geografis yang natural dan humanistik bagi medan terestrial yang luas yang memuat kehidupan orang-orang asli Badui di wilayah selatan dan gaya pendudukan yang sudah lama di bagian utara. Tanah Palestina punya keistimewaan dibanding dengan daerah lain karena merupakan bagian dari tempat diturunkannya semua agama samawi, tempat di mana peradaban kuno muncul, menjadi jembatan aktivitas komersial dan tempat penyusupan ekspedisi militer di sepanjang era bersejarah yang berbeda. Lokasi strategis yang dinikmati Palestina memungkinkannya untuk menjadi faktor penghubung antara berbagai benua bagi dunia kuno Asia, Afrika dan Eropa. Palestina juga menjadi tempat yang dijadikan pintu masuk bagi perjalanan ke negara-negara tetangga. Ia menjadi jembatan penghubung bagi manusia sejak dahulu kala, sebagaimana ia juga menikmati lokasi sentral (Pusat) yang memikat sebagian orang yang mau bermukim dan hidup dalam kemakmuran.
Pemerintahan
Pada saat ini daerah Palestina terbagi menjadi dua entitas politik:
1. Daerah negara Israel
2. Daerah Otoritas Nasional Palestina, yaitu sebagian besar Tepi Barat dan seluruh Jalur Gaza
Konflik Israel dan Palestina
Konflik Israel-Palestina, bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas, adalah konflik yang berlanjut antara bangsa Israel dan bangsa Palestina. Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.
Sejarah
Akhir abad ke-19 – 1920: Asal konflik
- Tahun 1897, Kongres Zionis Pertama diselenggarakan.
- Deklarasi Balfour 1917
- 2 November 1917. Inggris mencanangkan Deklarasi Balfour, yang dipandang pihak Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan ”tanah air” bagi kaum Yahudi di Palestina.
1920-1948: Mandat Britania atas Palestina
- Teks 1922: Mandat Palestina Liga Bangsa-bangsa
- Mandat Britania atas Palestina
- Revolusi Arab 1936-1939.
Revolusi Arab dipimpin Amin Al-Husseini. Tak kurang dari 5.000 warga Arab terbunuh. Sebagian besar oleh Inggris. Ratusan orang Yahudi juga tewas. Husseini terbang ke Irak, kemudian ke wilayah Jerman, yang ketika itu dalam pemerintahan Nazi.
David Ben-Gurion memproklamasikan kemerdekaan Israel dari Britania Raya pada 14 Mei 1948 di bawah potret Theodor Herzl
Rencana Pembagian Wilayah oleh PBB 1947
Deklarasi Pembentukan Negara Israel, 14 Mei 1948.
Secara sepihak Israel mengumumkan diri sebagai negara Yahudi. Inggris hengkang dari Palestina. Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh genderang perang melawan Israel.
1948-1967
- Perang Arab-Israel 1948
- Persetujuan Gencatan Senjata 1949
- 3 April 1949. Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana Pemisahan PBB.
- Exodus bangsa Palestina
- Perang Suez 1956
- Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) resmi berdiri pada Mei 1964. Tujuannya menghancurkan Israel.
- Perang Enam Hari 1967
- Resolusi Khartoum
- Pendudukan Jalur Gaza oleh Mesir
- Pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur oleh Yordan
1967-1993
- Perjanjian Nasional Palestina dibuat pada 1968, Palestina secara resmi menuntut pembekuan Israel.
- 1970 War of Attrition
- Perang Yom Kippur 1973
- Kesepakatan Damai Mesir-Israel di Camp David 1978
- Perang Lebanon 1982
- Intifada pertama (1987 – 1991)
- Perang Teluk 1990/1
1993-2000: Proses perdamaian Oslo
- Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel 1993
- 13 September 1993. Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing. Pada Agustus 1993, Arafat duduk semeja dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin. Hasilnya adalah Kesepakatan Oslo. Rabin bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa “memerintah” di kedua wilayah itu. Arafat “mengakui hak Negara Israel untuk eksis secara aman dan damai”.
28 September 1995. Implementasi Perjanjian Oslo. Otoritas Palestina segera berdiri. - Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat berjabat tangan ,dipantau oleh Bill Clinton, pada penandatanganan Persetujuan Oslo pada 13 September 1993
- Kerusuhan terowongan Al-Aqsa
- September 1996. Kerusuhan terowongan Al-Aqsa. Israel sengaja membuka terowongan menuju Masjidil Aqsa untuk memikat para turis, yang justru membahayakan fondasi masjid bersejarah itu. Pertempuran berlangsung beberapa hari dan menelan korban jiwa.
- 18 Januari 1997 Israel bersedia menarik pasukannya dari Hebron, Tepi Barat.
- Perjanjian Wye River Oktober 1998 berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal penjualan senjata ilegal.
- 19 Mei 1999, Pemimpin partai Buruh Ehud Barak terpilih sebagai perdana menteri. Ia berjanji mempercepat proses perdamaian.
2000-sekarang: Intifada al-Aqsa
- Intifada al-Aqsa (2000-sekarang)
- Maret 2000, Kunjungan pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon ke Masjidil Aqsa memicu kerusuhan. Masjidil Aqsa dianggap sebagai salah satu tempat suci umat Islam. Intifadah gelombang kedua pun dimulai.
- KTT Camp David 2000 antara Palestina dan Israel
- Maret-April 2002 Israel membangun Tembok Pertahanan di Tepi Barat dan diiringi rangkaian serangan bunuh diri Palestina.
- Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum internasional dan Israel harus merobohkannya.
- 9 Januari 2005 Mahmud Abbas, dari Fatah, terpilih sebagai Presiden Otoritas Palestina. Ia menggantikan Yasser Arafat yang wafat pada 11 November 2004
Peta menuju perdamaian
Juni 2005 Mahmud Abbas dan Ariel Sharon bertemu di Yerusalem. Abbas mengulur jadwal pemilu karena khawatir Hamas akan menang.
Peta wilayah Tembok Pemisah Israel.
- Agustus 2005 Israel hengkang dari permukiman Gaza dan empat wilayah permukiman di Tepi Barat.
- Januari 2006 Hamas memenangkan kursi Dewan Legislatif, menyudahi dominasi Fatah selama 40 tahun.
- Januari-Juli 2008 Ketegangan meningkat di Gaza. Israel memutus suplai listrik dan gas. Dunia menuding Hamas tak berhasil mengendalikan tindak kekerasan. PM Palestina Ismail Haniyeh berkeras pihaknya tak akan tunduk.
- November 2008 Hamas batal ikut serta dalam pertemuan unifikasi Palestina yang diadakan di Kairo, Mesir. Serangan roket kecil berjatuhan di wilayah Israel.
- Serangan Israel ke Gaza dimulai 26 Desember 2008. Israel melancarkan Operasi Oferet Yetsuka, yang dilanjutkan dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas. Korban dari warga sipil berjatuhan.
Situasi saat
- Sejak Persetujuan Oslo, Pemerintah Israel dan Otoritas Nasional Palestina secara resmi telah bertekad untuk akhirnya tiba pada solusi dua negara. Masalah-masalah utama yang tidak terpecahkan di antara kedua pemerintah ini adalah:
- Status dan masa depan Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur yang mencakup wilayah-wilayah dari Negara Palestina yang diusulkan.
- Keamanan Israel.
- Keamanan Palestina.
- Hakikat masa depan negara Palestina.
- Nasib para pengungsi Palestina.
- Kebijakan-kebijakan pemukiman pemerintah Israel, dan nasib para penduduk pemukiman itu.
- Kedaulatan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk Bukit Bait Suci dan kompleks Tembok (Ratapan) Barat.
- Masalah pengungsi muncul sebagai akibat dari perang Arab-Israel 1948. Masalah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur muncul sebagai akibat dari Perang Enam Hari pada 1967.
Selama ini telah terjadi konflik yang penuh kekerasan, dengan berbagai tingkat intensitasnya dan konflik gagasan, tujuan, dan prinsip-prinsip yang berada di balik semuanya. Pada kedua belah pihak, pada berbagai kesempatan, telah muncul kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dalam berbagai tingkatannya tentang penganjuran atau penggunaan taktik-taktik kekerasan, anti kekerasan yang aktif, dll. Ada pula orang-orang yang bersimpati dengan tujuan-tujuan dari pihak yang satu atau yang lainnya, walaupun itu tidak berarti mereka merangkul taktik-taktik yang telah digunakan demi tujuan-tujuan itu. Lebih jauh, ada pula orang-orang yang merangkul sekurang-kurangnya sebagian dari tujuan-tujuan dari kedua belah pihak. Dan menyebutkan “kedua belah” pihak itu sendiri adalah suatu penyederhanaan: Al-Fatah dan Hamas saling berbeda pendapat tentang tujuan-tujuan bagi bangsa Palestina. Hal yang sama dapat digunakan tentang berbagai partai politik Israel, meskipun misalnya pembicaraannya dibatasi pada partai-partai Yahudi Israel.
Mengingat pembatasan-pembatasan di atas, setiap gambaran ringkas mengenai sifat konflik ini pasti akan sangat sepihak. Itu berarti, mereka yang menganjurkan perlawanan Palestina dengan kekerasan biasanya membenarkannya sebagai perlawanan yang sah terhadap pendudukan militer oleh bangsa Israel yang tidak sah atas Palestina, yang didukung oleh bantuan militer dan diplomatik oleh A.S. Banyak yang cenderung memandang perlawanan bersenjata Palestina di lingkungan Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai hak yang diberikan oleh persetujuan Jenewa dan Piagam PBB. Sebagian memperluas pandangan ini untuk membenarkan serangan-serangan, yang seringkali dilakukan terhadap warga sipil, di wilayah Israel itu sendiri.
Demikian pula, mereka yang bersimpati dengan aksi militer Israel dan langkah-langkah Israel lainnya dalam menghadapi bangsa Palestina cenderung memandang tindakan-tindakan ini sebagai pembelaan diri yang sah oleh bangsa Israsel dalam melawan kampanye terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas, Jihad Islami, Al Fatah dan lain-lainnya, dan didukung oleh negara-negara lain di wilayah itu dan oleh kebanyakan bangsa Palestina, sekurang-kurangnya oleh warga Palestina yang bukan merupakan warga negara Israel. Banyak yang cenderung percaya bahwa Israel perlu menguasai sebagian atau seluruh wilayah ini demi keamanannya sendiri. Pandangan-pandangan yang sangat berbeda mengenai keabsahan dari tindakan-tindakan dari masing-masing pihak di dalam konflik ini telah menjadi penghalang utama bagi pemecahannya.
- PLO
- Al-Fatah
- Hamas
- JIP
Lambang-lambang dari organisasi-organisasi utama Palestina termasuk peta wilayah Israel sekarang, Tepi Barat dan Jalur Gaza. (Sejumlah besar penduduk Palestina maupun Israel sama-sama mengklaim hak atas seluruh wilayah ini).
Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan oleh Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 “reservasi”. Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh “kehadiran sipil dan militer… yang permanen” di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan “mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza.” Pemerintah Israel berpendapat bahwa “akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan,” sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel “akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok [artinya, Penghalang Tepi Barat Israel] dan mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini”

Sebuah poster gerakan perdamaian: Bendera Israel dan bendera Palestina dan kata-kata Salaam dalam bahasa Arab dan Shalom dalam bahasa Ibrani. Gambar-gambar serupa telah digunakan oleh sejumlah kelompok yang menganjurkan solusi dua negara dalam konflik ini.
Dengan rencana pemisahan diri sepihak, pemerintah Israel menyatakan bahwa rencananya adalah mengizinkan bangsa Palestina untuk membangun sebuah tanah air dengan campur tangan Israel yang minimal, sementara menarik Israel dari situasi yang diyakininya terlalu mahal dan secara strategis tidak layak dipertahankan dalam jangka panjang. Banyak orang Israel, termasuk sejumlah besar anggota partai Likud — hingga beberapa minggu sebelum 2005 berakhir merupakan partai Sharon — kuatir bahwa kurangnya kehadiran militer di Jalur Gaza akan mengakibatkan meningkatnya kegiatan penembakan roket ke kota-kota Israel di sekitar Gaza. Secara khusus muncul keprihatinan terhadap kelompok-kelompok militan Palestina seperti Hamas, Jihad Islami atau Front Rakyat Pembebasan Palestina akan muncul dari kevakuman kekuasaan apabila Israel memisahkan diri dari Gaza
Jalur Gaza dan Konflik Israel
Jalur Gaza (bahasa Arab غزة, bahasa Ibrani רצועת עזה) adalah sebuah daerah kecil di sebelah barat daya Israel. Pada akhir perang Arab-Israel di tahun 1948, daerah ini diduduki Mesir. Tetapi pada Perang Enam Hari, daerah ini ditaklukkan Israel. Sebagian besar daerah ini dan Tepi Barat dikontrol Otoritas Nasional Palestina. Mulai tanggal 15 Agustus 2005, Israel mengundurkan diri dari Jalur Gaza. Semua pemukiman Yahudi di daerah digusur Tentara Israel.
Pada saat ini tertanggal 27 Desember 2008 di Gaza terjadi perang antara Hamas dan Israel. Perang itu bertujuan untuk membasmi Hamas[rujukan?] yang mengakibatkan Palestina menderita lebih dari 1.350 warga terbunuh dan 10.249-an warga mengalami luka-luka. Sementara pihak Israel terjadi korban sebanyak 80 orang yang diklaim oleh Hamas
Kronologis Sejarah Jalur Gaza
- uni 1967: Israel mencaplok Jalur Gaza yang sebelumnya dikuasai oleh Mesir selama perang. Menurut sensus Israel saat itu, populasi penduduk di Jalur Gaza hanya 380.000 jiwa, dan setengahnya merupakan pengungsi dari Israel. Saat ini, populasi di wilayah seluas 360 km persegi tersebut mencapai 1,5 juta jiwa, dengan jumlah pengungsi beserta keluarganya mencapai 1 juta jiwa.
- Desember 1987: Perselisihan di kamp pengungsi Jebaliya memicu pemberontakan warga Palestina, yang berakhir pada tahun 1993. Kelompok militan Islam Hamas merupakan yang pertama kali muncul pada masa-masa awal pemberontakan.
- September 2005: Israel menarik pasukannya beserta 8.500 pendatang Yahudi dari Jalur Gaza. Namun, Israel tetap menguasai wilayah udara, perairan di garis pantai, dan perbatasan. Hal ini menyebabkan ahli-ahli hukum Palestina dan beberapa dari Israel menuduh Israel masih menduduki Jalur Gaza.
- Juni 2007: Hamas mengambil alih Jalur Gaza dari tangan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
- Juni 2008: Kelompok militan Hamas dan Israel sepakat untuk melakukan gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran.
- November 2008: Hamas kembali melontarkan roket dan mortir ke wilayah Israel sebagai balasan serangan mendadak yang dilancarkan Israel beberapa saat setelah perjanjian gencatan senjata berakhir.
- 27 Desember 2008: Israel membombardir Jalur Gaza, dan menyebabkan lebih dari 200 warga Palestina tewas pada hari pertama penyerangan. Korban tewas hingga Senin mencapai lebih dari 300 orang. Militer Israel, menyatakan membom lebih dari 40 terowongan yang menghubungkan wilayah Jalur Gaza yang diblokade dengan Gurun Sinai di Mesir. “Angkatan udara baru saja menyerang lebih dari 40 terowongan yang ditemukan di sisi perbatasan Gaza. Terowongan-terowongan itu, kami yakin, digunakan untuk penyelundupan senjata, peledak, dan kadang orang-orang yang akan berlatih untuk misi teror di negara-negara lain di kawasan itu,” kata juru bicara militer Avital Leibovitch kepada wartawan. “Pilot memberitahukan hantaman langsung terhadap sasaran-sasaran ini,” katanya.
Menurut laporan AFP, jet-jet Israel membom daerah sepanjang perbatasan Gaza dengan Mesir, menimbulkan asap tebal yang membubung ke angkasa. Terowongan-terowongan yang melintasi perbatasan itu digunakan untuk menyelundupkan barang dan senjata ke wilayah Jalur Gaza yang terputus dari dunia luar karena blokade Israel sejak Hamas menguasainya tahun lalu.
Sejumlah bom yang dijatuhkan Israel meledak dekat sebuah pangkalan militer Mesir di perbatasan itu. Tak lama setelah itu, seorang pria Palestina dengan luka-luka di kepala berjalan melintasi perbatasan tersebut dan dibawa oleh salah satu dari beberapa ambulan Mesir yang menunggu merawat para korban
AS Bela Israel
Menyusul serangan Israel ke Gaza yang menewaskan 228 orang, Pemerintah Amerika Serikat, justru terkesan membela Israel dan menyalahkan kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza. AS meminta Hamas segera mengadakan gencatan senjata kembali dan menghentikan serangannya ke Israel jika konflik terbaru ini ingin berakhir.
Sebanyak 228 orang tewas dan 400 orang lainnya luka-luka akibat serangan membabi-buta oleh Israel ke Kota Gaza, Sabtu. Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak masih sesumbar bahwa serangan ke Jalur Gaza akan diperluas jika “diperlukan”.
Indonesia Kutuk Serangan Israel di Gaza
Pemerintah Indonesia mengutuk serangan militer Israel terhadap wilayah Gaza, Palestina, yang dilaporkan telah mengakibatkan jatuhnya korban lebih dari 228 orang tewas dan sejumlah besar luka-luka. Menurut keterangan resmi dari Departemen Luar Negeri di Jakarta, serangan militer tersebut merupakan penggunaan kekerasan yang berlebihan dan tidak proporsional terhadap serangan roket oleh kelompok-kelompok Palestina yang merupakan pembelaan diri dari pendudukan militer dan penjajahan Israel terhadap Palestina. Serangan Israel itu merupakan salah satu serangan bersenjata terbesar yang dilakukan negeri Yahudi itu.
Dalam pernyataannya, Juru Bicara Deplu Teuku Faizasyah mengatakan, pemerintah Indonesia mendesak kepada Israel agar menghentikan serangan militer dan penggunaan kekerasan yang keji dan tidak bertanggung jawab serta melanggar ketentuan-ketentuan hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa. “Pemerintah Indonesia juga mendesak agar Dewan Keamanan PBB melakukan sidang darurat sesuai dengan tanggung jawabnya dalam memulihkan perdamaian dan keamanan di wilayah Palestina,” katanya.
Pemerintah Indonesia juga berharap Pemerintah Israel dan Pemerintah Palestina memulai kembali proses dialog dan perdamaian yang macet. Setidaknya pada lima tahun terakhir ini, tiadanya dialog dan negosiasi telah mengakibatkan kelompok-kelompok sempalan mengambil tindakan sendiri-sendiri yang mengundang balasan berlebihan dari Israel dan mengakibatkan jatuhnya korban yang banyak dan materiil yang besar di pihak Palestina.
Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Departemen Kesehatan (Depkes) sedang menyiapkan bantuan obat-obatan senilai Rp 2 miliar ke Palestina menyusul serangan Israel ke negara itu yang mengakibatkan jatuhnya ratusan korban sipil maupun para pejuang.
Kepala Pusat Pengendalian Krisis (PPK) Depkes dr Rustam S Pakaya mengungkapkan hal itu, terkait tragedi serangan itu. “Pemerintah RI, dalam hal ini Menteri Kesehatan (Menkes) segera akan mengirimkan bantuan obat-obatan senilai lebih dari Rp 2 miliar atau 200.000 dollar AS, dan tentu saja akan berkoordinasi dengan Departemen Luar Negeri (Deplu),” katanya. Ia menambahkan, berdasarkan data yang bisa diakses pihaknya, serangan Israel tersebut sekurangnya telah menewaskan 300 warga sipil dan pejuang Palestina, serta menyebabkan lebih dari 1.000 orang luka berat. Sebagai langkah cepat untuk pengiriman bantuan tersebut, kata Rustam S Pakaya, pertemuan koordinasi lintas instansi sesegera mungkin dilakukan.
Setelah khawatir bantuan kemanusiaan rakyat Indonesia bakal tidak sampai ke tangan rakyat Palestina di Gaza, kabar baik diterima tim bantuan kemanusiaan Indonesia, kemarin siang sekitar pukul sebelas waktu Mesir. Wakil Menteri Luar Negeri Mesir untuk Urusan Pengungsi Palestina, Adelrahman Salaheldin, berjanji akan memfasilitasi dan mengawal perjalanan Tim Bantuan Kemanusiaan RI hingga menyerahkan langsung bantuan ke rakyat Palestina.
Bahkan Salaheldin berjanji membantu pemberangkatan Tim Delegasi Indonesia sampai ke perbatasan Gaza secepatnya. “Kami akan fasilitasi hingga tim Indonesia melihat langsung serah terimanya,” kata Salaheldin.
Ketua Tim Delegasi Indonesia, R. Pakaya, menyambut baik janji Salaheldin. Karena itu, Kepala Pusat Pengendalian Krisis di Departemen Kesehatan ini langsung menyusun daftar obat-obatan dan kebutuhan kesehatan lainnya bersama Mer-C, Bulan Sabit Merah Indonesia, dan Bulan Sabit Palestina. “Semoga besok bisa kita belanja dan kita serahkan daftarnya,” kata Rustam. Usai pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Mesir, Ketuam Tim R. Pakaya menandatangani MoU penyerahan bantuan Indonesia melalui Kedutaan Besar Mesir Rp 1 Miliar.
Parlemen Indonesia berminat untuk bergabung dengan misi kemanusiaan Gaza Street Movement. Rencananya, gerakan ini akan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Palestina pada April mendatang. “Kaukus parlemen berencana mau bergabung. Tapi kami lihat dulu formatnya seperti apa,” kata anggota Komisi I, Al Muzzamil Yusuf.
Sebelumnya, ketua tim Gaza Street Movement, Huwaida Arraf, memaparkan mengenai agenda kedatangan mereka ke DPR RI. Menurutnya, mereka sudah menggalang dukungan ke beberapa negara termasuk Indonesia. “Kami sudah mengirimkan empat kapal berisi bantuan ke Palestina. Dan untuk kapal selanjutnya akan dikirimkan pada April mendatang,” jelasnya. Al Muzzamil yang juga adalah anggota kaukus menyambut baik keinginan dari tim tersebut. Menurutnya, Huwaida sebagai pemimpin merupakan warga kelahiran Amerika Serikat. “Tapi memiliki kepedulian di Palestina,” jelasnya
Sementara itu, DK PBB Sabtu malam menyerukan dibukanya sidang darurat guna membahas situasi di Jalur Gaza, yang menjadi sasaran serangan udara Israel. Israel seolah lepas kendali menggempur Jalur Gaza, dalam serangan udara yang ditujukan pada instalasi-instalasi dan para anggota Hamas sehingga menewaskan 228 orang, yang sebagian besar para pejuang. Lebih dari 750 orang cedera dalam serangan membabi-buta tersebut.
Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Gordon Johndroe, menegaskan, Hamas tidak sepantasnya melancarkan serangan ke Israel setelah gencatan senjata dilaksanakan beberapa bulan terakhir. “Mereka tidak lain preman, jadi Israel akan melindungi rakyatnya dari serangan kelompok terorisme seperti Hamas, yang tidak pandang bulu dan membunuh orang-orangnya sendiri,” kata Johndroe di Texas. Namun, Johndroe mengatakan, AS tidak ingin melihat kekerasan lebih banyak lagi.
Brooke Anderson, Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional yang ditunjuk Obama, mengatakan, Obama terus memantau peristiwa global, termasuk situasi di Jalur Gaza. Saat Israel kembali menyerang Jalur Gaza, Juru Bicara Hamas Fawzi Barhoum menegaskan pihaknya akan terus bertahan hingga titik darah penghabisan.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengutuk serangan Israel. Mesir telah memanggil Duta Besar Israel untuk menyatakan sikap keberatannya, dan meminta Israel untuk membuka Jalur Gaza dan mengizinkan mobil-mobil ambulans membawa korban luka-luka.
Sementara itu, Menlu AS Condoleezza Rice mengatakan, AS mengutuk keras serangan roket dan mortir oleh Hamas ke Israel. “Hamas telah melanggar gencatan senjata. Maka itu, gencatan senjata harus segera dilaksanakan kembali,” kata Rice.
Johndroe mengatakan, AS meminta agar kebutuhan kemanusiaan dipenuhi di Jalur Gaza. Dia menekan Israel untuk menghindari baku hantam dengan masyarakat sipil. “Saya tahu mereka (Israel) memiliki target markas-markas Hamas. Namun, kami menekan mereka untuk menghindari korban sipil,” ujarnya.
Serangan Israel ke Jalur Gaza juga mengundang protes dari sejumlah negara di seluruh penjuru dunia, termasuk Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, Vatikan, dan Sekretaris Jenderal PBB. Duta Timur Tengah Tony Blair dan Liga Arab dijadwalkan akan bertemu untuk membahas persoalan ini. Presiden terpilih AS, Barack Obama, telah menerima laporan tentang situasi terakhir di Palestina.















*sumber : korananakindonesia.wordpress.com
